Skip to main content

Media dan Religiusitas




Agama dan media, suatu topik yang oleh Pdt. Carlos A. Valle dikategorikan sebagai sebuah tema yang begitu besar karena kedua hal tersebut memberikan pengaruh yang besar di dalam perkembangan kehidupan manusia. Dan terlebih lagi, kedua hal tersebut pun memiliki saling keterhubungan yang erat antara satu dengan yang lain di masa kini, yang serta merta saling memperngaruhi keberadaannya masing-masing.
Pembahasan pertama adalah tentang hubungan dari keberadaan masyarakat dengan suatu media. Dikatakan bahwa dalam hal ini, terdapat tiga hal utama yang memberikan pengaruh. Pertama adalah komunitas masyarakat yang bersifat majemuk. Kemajemukan di dalam masyarakat tentu saja telah melahirkan keberagaman kultur dan budaya yang ada di dalam masyarakat. Sehingga secara sengaja maupun tidak di sengaja, hal tersebut telah membawa perubahan di dalam kepercayaan-kepercayaan tradisionil yang ada di dalam masyarakat. Kedua adalah kedudukan media di dalam masyarakat yang semakin memegang peranan penting. Bahkan keberadaan dari surat kabar hampir disamakan dengan Alkitab. Dan tak dapat dipungkiri, hal itu memberikan pengaruh di dalam pengekspresian nilai agama oleh penganutnya. Sedangkan hal ketiga adalah natur dari media itu sendiri, yang secara tidak kita sadari berusaha untuk mempengaruhi kita secara lebih dalam lagi daripada sekedar yang kita ketahui. Disebut demikian karena media dapat memanipulasi gambaran dan pengertian kita akan kepercayaan yang mungkin selama ini kita pegang.
Di pembahasan yang kedua, dituliskan beberapa jenis tanggapan terhadap media. Beberapa pihak disebut menerima dengan sepenuhnya tanpa terlebih dahulu mengkritisi media itu. Namun ada pula pihak yang bahkan menolak sepenuhnya keberadaan media di masyarakat. Adapun penolakan itu terjadi karena beberapa alas an. Alasan utama yang dikatakan oleh kaum agamis adalah mereka melihat bahwa posisi mereka di dalam masyarakat telah direbut oleh media. Dalam hal ini dikatakan bahwa media telah mengambil nilai-nilai yang selama ini menjadi daya tarik agama dan mempraktekkan nilai tersebut menjadi bagian dari media, media dikatakan juga telah mengancam nilai tradisionil serta kepercayaan yang dibangun oleh agama di tengah masyarakat.
Di bagian yang ketiga dari artikel, diberikan tiga tanggapan oleh para ahli. Salah satu contohnya adalah seperti yang Malcom Muggeridge ungkapkan. Beliau menolak keberadaan media, karena dianggapnya media telah memberikan dampak yang buruk bagi nilai-nilai kekristenan.
Sebagai penutup, Pdt. Carlos A.Valle mengatakan bahwa kita memang berada di lingkungan yang majemuk, dimana nilai spritualitas mulai merosot. Selain itu, kitapun tidak dapat menepis kehadiran media. Oleh akrena itu, tindakan yang diperlukan ketika agama dan media bertemu adalah sikap untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Tanggapan Artikel ‘Agama dan Media’
Membaca artikel ini, akan membawa kita untuk memahami bahwa dewasa ini, relasi yang berjalan antara media dan agama telah berlangsung jauh daripada yang sekedar kita sadari saat ini. Yang dimaksudkan adalah media saat ini tak lagi hanya menjadi sarana untuk mendukung keberadaan agama. Namun, secara aktif, media juga telah beralih fungsi menjadi salah satu hal yang mempengaruhi nilai religious seseorang. Sebagai contohnya kita menilik pada fakta yang disajikan dalam artikel agama dan media ini.
Pada awal artikel, Pdt.Carlos A. Valle, selaku penulis artikel ini menyampaikan kisah tentang bagaimana tetua suku di hutan liar Kanada memperlakukan anak mereka. Setiap anak yang baru lahir di suku tersebut akan disumbat lubang hidungnya, dan ditutup matanya. Hal demikian dimaksudkan agar indera pendengaran sang anak dapat berkembang maksimal dan dengan demikian sang anak dapat beradaptasi dengan ‘suara-suara’ di hutan tempat ia tinggal. Lalu, tatkala ia dapat beradaptasi, maka ia akan dapat bertahan hidup di hutan itu.hal yang amat berseberangan kita dapatkan di kisah yang berikutnya. Beliau menyampaikan fakta dari Amerika Serikat, disebutkan bahwa ketika seorang remaja Amerika meniup lilin ulng tahunnya yang ke 16, secara total ia telah memanfaatkan indera penglihatannya sebanyak 20.000 jam. Dari fakta tersebut, jika kita menganalisanya, kita akan menemukan bagaimana media memegang peranan yang begitu besar di dalam hidup seseorang, bagaimana media menentukan masa depan dan kecenderungan hidup dari manusia. Dan kalau kita menilik lebih dalam lagi, media itu juga mempengaruhi perkembangan religious dari orang tersebut, tentang apa yang ia yakini dan yang menjadi pegangan hidupnya.
Kembali pada remaja yang lahir di suku. Ia tumbuh dan berkembang dengan kedua mata yang ditutup, dan lebih banyak dengan pendengaran. Maka pertumbuhan religious nya akan lebih mendukung pada kepercayaan bahwa dengan mengenal suara dari lingkungannya maka ia akan dapat bertahan. Sedangkan di kota besar kita menjumpai bahwa mata adalah hal yang amat penting di dalam hidup. Karena kita diajar mengenal dunia melalui penglihatan. Dan kita pun akan lebih bisa mempercayai apa yang kita lihat. Namun, hal itu mungkin tidak berlaku pada suku yang hidup di hutan, sebab jika kita melihat pada fakta dan kondisi yang ada, kadangkala apa yang kita lihat dan jumpai di dunia liar bukanlah hal yang dapat kita percayai. Dan suku itu telah belajar sejak awalnya sehingga mereka memegang keyakinan tersebut.
Selain itu, hal lain yang perlu kita cermati adalah bagaimana kita bersikap terhadap terhadap perkembangan dari agama dan media tersebut. Mengapa hal ini penting? Yaitu karena kita hidup di dalam era dimana perkembangan teknologi terus bergulir dan melahirkan hal-hla baru. Jalan yang terbaik adalah kita harus melihat dengan bijak. Dan hindarkan kita bersikap secara subjektif. Sebab, jika kita melihat realita yang berkembang, media tidak selalu membawa pengaruh yang buruk bagi agama. Dalam beberapa hal agama dapat memanfaatkan media untuk menyampaikan nilai-nilainya kepada khalayak luas. Namun, kita juga jangan menerima sepenuhnya media yang ada, yang perlu kita perbuat adalah memilah media apa yang dapat mendukung pertumbuhan rohani kita dan tidak malah menjatuhkan rohani kita. Jangan sampai kita terlalu membiarkan diri kita menikmati media yang ada dan tidak memperhatikan kondisi kerohanian kita.

Comments

Popular posts from this blog

Benua Biru - Bag 2

Jumat 25 Juli 2014 Selamat Pagi! Fajar hari itu dilalui dari dalam perut burung besi berkode 777-200 rute Dubai-Milan. Berbagai brosur untuk mempermudah perjalanan Anda di Milan Seperti jadwal yg tertera, pesawat pun mendarat di Malpensa Aeroport, Milan, Italia, pk. 8.45 waktu setempat. 3 jam perkiraan waktu dihabiskan di penerbangan kedua ini. Tapi lumayan memberikan semangat karena disinilah perjalanan DIMULAI! Bandara Malpensa di Milan dapat dikatakan tidak terlalu besar, tapi tetap tertata rapi dan menyenangkan. Berbagai penanda dibuat untuk memudahkan pelancong. S bantal boneka yg menemani perjalanan di Benua Biru Singkat kata, akhirnya setelah memastikan semua barang bawaan sudah tersedia, kami menuju ke Bus yg menanti. Di Eropa, yg terdiri dari satu daratan luas dengan banyak sekali negara, memungkinkan bus dari negara lain untuk bisa melayani lintas batas. Seperti bus yg kami tumpangi. Stiker di badan bus bertuliskan Molteam, dan bus itu ternyata b...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...

Belajar Dari Bebek

Pagi ini, Kamis, 4 September 2014 menjadi hari yang tidak biasa. Untuk pertama kali setelah sekian minggu, terpaksa bermalam di kantor. Ya, walau sempat sih pulang jam 3, memejamkan mata sejenak, dan kembali ke kantor pagi pagi sekali. Tapi, datang pagi ke kantor tidak pernah berakhir buruk kok. Ya, tak lama tiba di ruangan, tv sedang memutar tayangan ttg perilaku hewan, dan bintang layar kaca pagi itu adalah bebek bebek kecil. Digambarkan ada induk bebek, bersama hampir 10 anaknya yang masih sangat kecil. Mereka sedang menyusuri taman, tatkala perjalananya terhenti pada sebuah undakan. Bagi sang induk, mudah saja untuk melompat. Tapi tak demikian halnya dengan anak-anak kecilnya. Dengan tubuh yang mungil, meloncati undakan itu sama saja dengan seorang manusia yang melompat dari ketinggian 6 meter, atau hampir setinggi rumah bertingkat tiga. Tanpa bulu yang tebal dan juga badan yg sangat kecil, meloncat undakan yang setinggi 3 kali ukuran tubuhnya bisa menjadi akhir ya...