Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiction

CHAPTER XI, GREATEST STORY EVER TOLD

Sumber : Google Besok adalah hari ulang tahun Marissa. Naldo tiba di pintu gereja. Berjalan dengan langkah gontai. Ia berlutut. Berdoa dalam hatinya. ”Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk menebus waktu yang tersisa? Aku hanya tidak ingin kehilangan dia. Tanpa dia apa artinya aku ini?” Tiba-tiba ia tersadar. Dengan menengadahkan kepalanya ke langit-langit gereja yang megah dihiasi ornamen-ornamen tua. Senyum akan harapan baru merekah menghias wajahnya. ”Terima kasih Tuhan, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan Dia,” dengan segera ia bangkit. *** Jam 12 malam. Marissa terlelap. Bibirnya sedikit terbuka menampilkan sederet giginya yang rusak karena obat. Tanpa ia sadari Naldo masuk dan mengecup tangannya. Perlahan Marissa membuka matanya. Melihat pangerannya duduk mendampingi. ”Naldo?” ia terheran-heran. ”Happy Birthday,” senyum Naldo mengembang. Ia mengulurkan sebuah kado pada Marissa. Kado itu berbentuk tabung. Bulat panjang berwarna kuni...

CHAPTER X, WHEN I MET HER - PART II

Sumber : Google     Marissa sedang duduk sendiri di taman rumah sakit. Wajahnya kini tampak sedikit tirus karena pengaruh obat yang dikonsumsinya. Rambutnya yang dulu tebal, kini tampak menipis. Walau tida mengurangi pesonanya. Menggunakan baju rumah sakit berwarna biru muda, Marissa sedang termenung sendiri saat ia didekati seseorang. ”Permisi, boleh duduk di sebelah kamu?” sebuah suara menyapanya ramah. Perlahan ia menoleh. Mata Marissa tidak bisa mempercayai sosok yang ada di hadapannya. ”Naldo?” Marissa bangkit. Perlahan, ia berjalan mundur menjauhi Naldo. ”Iya Mar, ini aku.” Senyum mengembang di wajah Naldo. ”Kok bisa? Kenapa kamu ada disini? Aku ga mau kamu tahu penyakit aku!” Marissa sedikit berlari. Namun, tubuh yang lemah membuat ia cepat lelah. Dan kini ia sudah ada dalam pelukan Naldo. ”Mar, please. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalin aku lagi seperti dulu,” suara Naldo bergetar. Perlahan, Naldo melepas pelukannya, kedua tangannya memegang ...

CHAPTER IX, SELALU ADA JALAN

Sudah sembilan kota ia sambangi terkait dengan promosi film hasil olahan tangannya tersebut. Jumpa penggemar pun sudah menjadi hal lumrah, bagi pemuda yang menghabiskan masa kecilnya menghalau kerbau di kampung halaman. Namun, Naldo juga seorang manusia. Memasuki pekan ke sepuluh promosi yang diadakan di Jakarta, kesehatannya Naldo menurun. Terpaksa ia dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan dan kekurangan vitamin. Menjadi seorang pesohor yang sakit, ramai nian penjenguk yang besimpati pada Naldo. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi saat ia masuk rumah sakit dahulu. Hanya dokter dan suster yang rajin menyambanginya setiap hari. Selain tentu saja sang Bunda yang setia di sisinya. Melayani banyak teman setiap hari, Naldo malah tidak dapat beristirahat. Sehingga sekarang ia lebih banyak sendiri dalam sebuah kamar VIP berukuran 10x5 meter. Namun, dalam kesendiriannya, Naldo merasa hatinya bergejolak. Ingin rasanya ia berkeliling rumah sakit yang tergolong mewah di kota Ja...

CHAPTER VIII, POWER OF LOVE

Sudah seminggu lamanya Naldo terbaring di rumah sakit. Tanpa sanak saudara di kota, Naldo melewati hari-harinya seorang diri, hingga sang bunda menyambanginya dari Jawa. ”Opo toh nak yang ada di kepalamu?” sang Bunda tak habis pikir setelah mendengar cerita dari mulut Naldo. ”Naldo juga ga sadar ma. Tiba-tiba aja aku uda begini.” Naldo merasa bersalah telah membuat sang Bunda kuatir. ”Hm, memang seberapa besar kamu cinta sama perempuan itu?” Naldo terkejut mendengar pertanyaan sang Bunda. Butuh waktu sejenak untuk ia menjawab. ”Naldo sayang banget, Ma. Makanya, kemarin aku jadi ga berpikir sehat lagi.” ”Hm, mama paham. Tapi, kalo kamu sayang dia. Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Pasti yang dimaksud menjadi lebih baik bukan dengan cara kamu mati menenggak racun,” sebuah senyum mengembang di wajah sang Bunda. Naldo tampak terkejut. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. ”Nih, Mama menemukan kertas ini di bawah ranjang kamu,” sang Bunda menyerahkan kertas merah...

CHAPTER VII, TERPURUK

Enam bulan berlalu sejak kepergian Marissa, semangat hidup Naldo masih berada di titik terendahnya. Tidak nampak semangat pada Naldo untuk menjalani hari-harinya seperti yang ia lalui bersama Marissa. Ia yang dulu ramah, kini menjadi dingin. Kepeduliaan pada orang lain yang dulu ia miliki, kini berganti menjadi sesosok mahasiswa yang suka menyendiri. Ketekunannya yang dulu menjadi panutan, kini tak lagi nampak. Yang ada adalah seorang mahasiswa yang kerapkali terlambat atau bahkan madol dari kelasnya. Puncaknya, nilai Naldo anjlok dan ia harus mengulang banyak kelas di semester itu. Cinta sungguh-sungguh terbukti berkuasa menjerumuskan siapapun yang terjebak dalam permainannya. Dan Naldo, setelah digempur berbagai keterpurukan, kini hanya dapat duduk diam. Dalam kesendiriannya di kamarnya yang berukuran 3x4 meter, ia merenung. Apa artinya aku tanpa dia? Pemuda berusia 18 tahun itu kemudian berpaling. Dan, terlihat sebotol obat nyamuk, berada tepat di sisi almarinya. Lalu, ba...

CHAPTER VI, TAK SEINDAH BAYANGMU

Sebulan lebih hubungan itu berjalan. Selama itu, ada banyak waktu-waktu yang dihabiskan bersama. Saat-saat itu sangat berharga itu dilalui dengan penuh canda dan tawa. Bahkan, mereka juga meluangkan waktu untuk belajar bersama. Sehingga hasilnya diperoleh di semester selanjutnya, beasiswa bagi Naldo dan Marissa. Bagi Naldo, saat ini semua tampaknya berjalan begitu  menyenangkan. Namun, terkadang Naldo murung kala mengingat mama Marissa. Hingga kini mama Marissa belum bisa menerima kedekatan Naldo dengan putri semata wayangnya itu. Oleh karena itu, mereka berdua sepakat belum memberitahukan bahwa mereka berpacaran pada beliau. Namun, pertanyaannya, sampai kapan mereka harus seperti itu? ”Nald, aku bingung neh,” Marissa bersandar pada pundak Naldo sementara mereka ada di dalam shuttle yang mengantar mereka dari kampus ke mal SMS. ”Tentang mamimu ya?” Naldo sudah bisa menebak arah pembicaraan itu, ”Kamu udah siap say untuk ngomong sama mamimu?” ”Itu dia, aku ga ta...