Sumber : Google Besok adalah hari ulang tahun Marissa. Naldo tiba di pintu gereja. Berjalan dengan langkah gontai. Ia berlutut. Berdoa dalam hatinya. ”Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk menebus waktu yang tersisa? Aku hanya tidak ingin kehilangan dia. Tanpa dia apa artinya aku ini?” Tiba-tiba ia tersadar. Dengan menengadahkan kepalanya ke langit-langit gereja yang megah dihiasi ornamen-ornamen tua. Senyum akan harapan baru merekah menghias wajahnya. ”Terima kasih Tuhan, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan Dia,” dengan segera ia bangkit. *** Jam 12 malam. Marissa terlelap. Bibirnya sedikit terbuka menampilkan sederet giginya yang rusak karena obat. Tanpa ia sadari Naldo masuk dan mengecup tangannya. Perlahan Marissa membuka matanya. Melihat pangerannya duduk mendampingi. ”Naldo?” ia terheran-heran. ”Happy Birthday,” senyum Naldo mengembang. Ia mengulurkan sebuah kado pada Marissa. Kado itu berbentuk tabung. Bulat panjang berwarna kuni...
"Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya...."