Skip to main content

CHAPTER IX, SELALU ADA JALAN




Sudah sembilan kota ia sambangi terkait dengan promosi film hasil olahan tangannya tersebut. Jumpa penggemar pun sudah menjadi hal lumrah, bagi pemuda yang menghabiskan masa kecilnya menghalau kerbau di kampung halaman.
Namun, Naldo juga seorang manusia. Memasuki pekan ke sepuluh promosi yang diadakan di Jakarta, kesehatannya Naldo menurun. Terpaksa ia dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan dan kekurangan vitamin.
Menjadi seorang pesohor yang sakit, ramai nian penjenguk yang besimpati pada Naldo. Sungguh jauh berbeda dengan kondisi saat ia masuk rumah sakit dahulu. Hanya dokter dan suster yang rajin menyambanginya setiap hari. Selain tentu saja sang Bunda yang setia di sisinya.
Melayani banyak teman setiap hari, Naldo malah tidak dapat beristirahat. Sehingga sekarang ia lebih banyak sendiri dalam sebuah kamar VIP berukuran 10x5 meter.
Namun, dalam kesendiriannya, Naldo merasa hatinya bergejolak. Ingin rasanya ia berkeliling rumah sakit yang tergolong mewah di kota Jakarta.

***

Hari ini, Naldo mengantongi izin dokter untuk keluar dari kamarnya. Kebugaran tubuhnya dinilai sudah cukup untuk sekadar berkeliling di rumah sakit yang menggabungkan konsep modern dengan alam tersebut.
Lama terkukung dalam ruangan serba putih, dedaunan hijau di taman rumah sakit memberikan kesegaran baru bagi Naldo. Dengan bebas ia berkeliling taman itu sambil menikmati udara segar di pagi hari hingga ia mulai lelah.
Sekitar dua jam sudah Naldo menikmati kebebasannya, kini ia harus kembali ke kamarnya yang ada di lantai empat gedung rumah sakit tersebut.
Berjalan perlahan, Naldo menyusuri lorong yang menuju ke kamarnya. Sesekali kepalanya celingukan melihat kamar pasien lain yang dekat dengan kamarnya. Mungkin ada yang gue kenal, begitu pikirnya.
Niat yang sama pun muncul saat Naldo melalui kamar 407. Kamar yang pintunya selalu tertutup rapat itu, pada pagi hari ini terbuka. Dan hal ini tidak disia-siakan oleh Naldo. Ia lalu menjulurkan kepalanya mencari tahu.
Namun, tindakannya itu malah memberikan kejutan baginya. Dalam ruang itu nampak sesosok wanita paruh baya yang terakhir ia temui tiga tahun lalu. Itu adalah mama Marissa.
Kenapa gerangan ia ada disini??? Pikiran itu berkecamuk sepanjang langkahnya kembali ke ruang 410, kamar tempat ia dirawat.
Setibanya di kamar, seribu rencana berputar di otaknya. Tujuannya satu. Mencari tahu siapa gerangan yang ada dalam ruangan itu.   Doanya, seseorang di dalam sana akan membawa Marissa kembali kepadanya.


***

Pagi itu, Naldo sudah bersiap. Rencananya ia akan berjalan pagi dan kembali ke kamar seperti waktu kemarin. Setelah berkeliling taman beberapa kali, Naldo memulai rencananya.
Ia menyusuri lorong kamarnya berada dengan amat perlahan, dengan matanya tidak lepas dari ruang 407 yang ada di sisi kanan. Dan, tepat seperti yang ia perkirakan, pintunya terbuka. Lalu, dengan sedikit berlari, ia kini sudah tiba  di depan pintu yang masih terbuka itu. Tapi, apa yang dijumpainya. Kamar yang kosong.
Naldo yang putus asa lalu berbalik dan hamper menabrak seorang wanita paruh baya. Dan, wanita itu adalah wanita yang ia lihat kemarin. Yang tidak lain adalah mama dari Marissa.
”Loh?” hanya itu kata yang terucap dari bibir mama Marissa. Disertai juga dengan mata yang terbelalak hendak melompat keluar.
”Tante?” Naldo yang akhirnya yakin dengan penglihatannya kemarin, tak kalah terkejut, ”Maaf tante, saya ga maksud untuk macem-macem. Bener deh, saya cuma mencari tahu.”
”Kok kamu bisa sampai disini?” sebuah pertanyaan meluncur dari mulut mama Marissa, yang diketahui bernama tante Daisy.
”Iya, saya kemarin kelelahan karena promosi film jadi akhirnyaa………..” Pembicaraan itu berlanjut di cafĂ© rumah sakit hingga kira-kira mentari mengambil tempat tepat di atas kepala.  
Dari situ, Naldo memahami semuanya.

***

24 Oktober 2012

”Bro, kini semua jelas bagiku. Tante Daisy menghalangi hubungan kami karena ia sudah tahu akan penyakit yang diderita oleh Marissa. Dan ia ga ingin baik gue maupun Marissa terluka karena perpisahan yang kelak pasti  datang.
Tentang kejadian tiga tahun lalu, Marissa ternyata pergi ke Australia untuk melakukan pengobatan, namun, sejak tahun ini pengobatannya telah dialihkan ke Indonesia. Kata tante Daisy, itu adalah permintaan khusus dari Marissa.
Hm, gue sekarang uda tahu semuanya, tapi gue ga mau menyerah dengan keadaan. Gue bakal berjuang untuk gue dan dia. Itu janji gue kali ini. ”

***

Sehari setelah pembicaraan itu, Naldo sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kini, yang terlintas di pikirannya adalah bagaimana cara ia menghadirkan dirinya di hadapan Marissa.

*** 

.... bersambung ...

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Dari Balik Kemudi

ANGKUTAN UMUM DI KOTA METROPOLITAN ilustrasi: mikrolet Jakarta, Perkembangan Sebuah Metropolitan Jakarta atau juga dikenal sebagai Provinsi DKI Jakarta adalah kota provinsi yang terletak di utara Pulau Jawa. Berdasarkan letak geografisnya, Jakarta berbatasan langsung dengan dua provinsi lainnya, yaitu Banten dan Jawa Barat. Merilis data yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada Januari 2009, Jakarta memiliki luas sekitar 740 km² dan penduduknya berjumlah 8.489.910 jiwa. Kota Jakarta sebagai sebuah kota mandiri memiliki sejarah yang amat panjang. Kota ini telah berkembang sejak abad ke-16, dan pada masa itu dikenal dengan nama Kalapa. [1] Pada masa tersebut, Jakarta telah menjadi pusat berbagai kegiatan, baik itu yang berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan. Pemusatan itu salah satunya dipengaruhi oleh letak Jakarta yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, sehingga menjadi tempat transit bagi perdagangan rempah-rem...

Menyepi di Pulau Sangiang

Kapal kayu yang digunakan untuk menyeberang Semburat mentari mengintip di balik perbukitan ketika anak buah kapal mulai bersiap. Pagi itu, 7 Juli 2016, beberapa kapal kayu bermotor tertambat di Pelabuhan Paku, Anyer, Banten.Salah satu kapal kayu itulah yang akan kami tumpangi untuk menyeberang ke Pulau Sangiang. Rombongan kami berjumlah 15 orang. Kami berangkat dari Jakarta Rabu malam agar dapat beristirahat. Tiba di Pelabuhan Paku, kami akhirnya harus memejamkan mata dan berbaring di pelataran kantor pelabuhan. Meski tidak terlalu nyaman, istirahat yang singkat sangat membantu mengisi energi sebelum menyeberang. Sekitar pukul 7 pagi itu. Kapal kami mulai bertolak. Perlahan lahan, kapal kecil yang kami tumpangi mulai membelah perairan Selat Sunda. Perjalanan pagi itu cukup menyenangkan. Ombak tidak terlalu besar sehingga tidak menyulitkan 6 orang anak buah kapal yang menahkodai kapal kami. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam hingga 1,5 jam sebelum akhirnya kapal mulai mende...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...