Skip to main content

CHAPTER VII, TERPURUK


Enam bulan berlalu sejak kepergian Marissa, semangat hidup Naldo masih berada di titik terendahnya.
Tidak nampak semangat pada Naldo untuk menjalani hari-harinya seperti yang ia lalui bersama Marissa. Ia yang dulu ramah, kini menjadi dingin. Kepeduliaan pada orang lain yang dulu ia miliki, kini berganti menjadi sesosok mahasiswa yang suka menyendiri.
Ketekunannya yang dulu menjadi panutan, kini tak lagi nampak. Yang ada adalah seorang mahasiswa yang kerapkali terlambat atau bahkan madol dari kelasnya. Puncaknya, nilai Naldo anjlok dan ia harus mengulang banyak kelas di semester itu.
Cinta sungguh-sungguh terbukti berkuasa menjerumuskan siapapun yang terjebak dalam permainannya. Dan Naldo, setelah digempur berbagai keterpurukan, kini hanya dapat duduk diam. Dalam kesendiriannya di kamarnya yang berukuran 3x4 meter, ia merenung. Apa artinya aku tanpa dia?
Pemuda berusia 18 tahun itu kemudian berpaling. Dan, terlihat sebotol obat nyamuk, berada tepat di sisi almarinya. Lalu, bagai dirasuki sesuatu, ia bangkit dari tempat duduknya. Dan berjalan ke arah botol itu. Diambilnya begitu saja. Lalu ditenggaknya.
Perlahan, cairan kimia yang seharusnya untuk hewan berkaki banyak itu mulai bereaksi. Tubuhnya mulai goyah. Sebentar, Naldo mulai oleng ke kanan dan ke kiri. Botol dalam genggamannya kini sudah terpelanting ke lantai.
Tiba-tiba, pikirannya terbuka. Bagai sebuah kilas balik yang cepat, kenangan akan Marissa berputar-putar di kepalanya. Tahu melakukan kesalahan, Naldo ingin kembali. Namun, apa daya yang ia bisa lakukan. Racun itu sudah ada dalam tubuhnya.
Dengan kesadaran yang tersisa, ia melangkah ke muka pintu. Tapi, setiap satu langkah ia jalani, ia merasa tubuhnya semakin tidak kuat. Dan, tubuh seberat 76 kilogram itu kini sudah tergeletak di lantai, tepat saat pintu kamarnya terbuka.

***

Sirine ambulans meraung-raung di tengah azan magrib yang tengah berkumandang. Secara ajaib, Naldo ditemukan oleh teman kostnya 25 menit yang lalu. Ia tergeletak sementara mulutnya berbusa.
Kini, ia terbaring dalam mobil yang melaju kencang, membelah kepadatan di sore itu. Tergolek lemah dengan alat bantuan pernapasan terpasang di hidungnya, Naldo tidak sadarkan diri.

***

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Dari Balik Kemudi

ANGKUTAN UMUM DI KOTA METROPOLITAN ilustrasi: mikrolet Jakarta, Perkembangan Sebuah Metropolitan Jakarta atau juga dikenal sebagai Provinsi DKI Jakarta adalah kota provinsi yang terletak di utara Pulau Jawa. Berdasarkan letak geografisnya, Jakarta berbatasan langsung dengan dua provinsi lainnya, yaitu Banten dan Jawa Barat. Merilis data yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada Januari 2009, Jakarta memiliki luas sekitar 740 km² dan penduduknya berjumlah 8.489.910 jiwa. Kota Jakarta sebagai sebuah kota mandiri memiliki sejarah yang amat panjang. Kota ini telah berkembang sejak abad ke-16, dan pada masa itu dikenal dengan nama Kalapa. [1] Pada masa tersebut, Jakarta telah menjadi pusat berbagai kegiatan, baik itu yang berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan. Pemusatan itu salah satunya dipengaruhi oleh letak Jakarta yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, sehingga menjadi tempat transit bagi perdagangan rempah-rem...

Menyepi di Pulau Sangiang

Kapal kayu yang digunakan untuk menyeberang Semburat mentari mengintip di balik perbukitan ketika anak buah kapal mulai bersiap. Pagi itu, 7 Juli 2016, beberapa kapal kayu bermotor tertambat di Pelabuhan Paku, Anyer, Banten.Salah satu kapal kayu itulah yang akan kami tumpangi untuk menyeberang ke Pulau Sangiang. Rombongan kami berjumlah 15 orang. Kami berangkat dari Jakarta Rabu malam agar dapat beristirahat. Tiba di Pelabuhan Paku, kami akhirnya harus memejamkan mata dan berbaring di pelataran kantor pelabuhan. Meski tidak terlalu nyaman, istirahat yang singkat sangat membantu mengisi energi sebelum menyeberang. Sekitar pukul 7 pagi itu. Kapal kami mulai bertolak. Perlahan lahan, kapal kecil yang kami tumpangi mulai membelah perairan Selat Sunda. Perjalanan pagi itu cukup menyenangkan. Ombak tidak terlalu besar sehingga tidak menyulitkan 6 orang anak buah kapal yang menahkodai kapal kami. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam hingga 1,5 jam sebelum akhirnya kapal mulai mende...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...