Skip to main content

CHAPTER VIII, POWER OF LOVE




Sudah seminggu lamanya Naldo terbaring di rumah sakit. Tanpa sanak saudara di kota, Naldo melewati hari-harinya seorang diri, hingga sang bunda menyambanginya dari Jawa.
”Opo toh nak yang ada di kepalamu?” sang Bunda tak habis pikir setelah mendengar cerita dari mulut Naldo.
”Naldo juga ga sadar ma. Tiba-tiba aja aku uda begini.” Naldo merasa bersalah telah membuat sang Bunda kuatir.
”Hm, memang seberapa besar kamu cinta sama perempuan itu?” Naldo terkejut mendengar pertanyaan sang Bunda. Butuh waktu sejenak untuk ia menjawab.
”Naldo sayang banget, Ma. Makanya, kemarin aku jadi ga berpikir sehat lagi.”
”Hm, mama paham. Tapi, kalo kamu sayang dia. Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Pasti yang dimaksud menjadi lebih baik bukan dengan cara kamu mati menenggak racun,” sebuah senyum mengembang di wajah sang Bunda.
Naldo tampak terkejut. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
”Nih, Mama menemukan kertas ini di bawah ranjang kamu,” sang Bunda menyerahkan kertas merah muda yang dulu ia dapatkan.
Naldo dengan segera meraih kertas itu. Dibacanya sekali lagi kertas itu.

Semua hal di bumi ini
Tak semua dapat kita miliki
Kadang kita harus belajar menerima dan merelakan
Karena tak ada keabadian di bumi
Bila rasa tidak lagi ada
Bila cinta tidak lagi bersemi
Lupakanlah jika itu sakit bagimu
Kenanglah bila itu baik untukmu
T’ruslah melangkah tanpa melihat ke belakang
Ku yakin,
Kau akan menjadi lebih baik dari sebelumnya…

Ya, aku pasti jadi lebih baik, Naldo membatin.

***

Kini, tiga tahun sudah Marissa pergi dari hari-hari Naldo. Naldo yang tatkala mengenal Marissa baru duduk di tingkat pertama, kini sudah siap menghadapi sidang akhir untuk meraih titel sarjananya.  Bahkan, karena prestasi yang dimiliki, Naldo sudah bekerja sejak tahun terakhir ia menjalani kuliah. Suatu prestasi yang tidak semua orang bisa lakukan.
Kenangan akan prestasi yang dulu sempat turun sepeninggal Marissa, kini sudah tidak berbekas. Naldo sungguh menjalani janjinya di rumah sakit. Ia benar-benar menjadi lebih baik. Bahkan jauh lebih baik.
Dari luar, tak ada keraguan bahwa Naldo menjalani harinya dengan bahagia. Ia sudah bekerja. Bahkan sang Bunda sudah ia boyong untuk tinggal di Jakarta. Tapi, itu hanya tampilan luar.
Dalam hati, siapa yang tahu.

***

Tetes hujan mulai mereda. Bersamaan dengan itu,  awan kelabu perlahan mulai menghilang, terganti oleh kerlip bintang yang berjarak ribuan tahun cahaya dari bumi ini. Sang rembulan pun, kini tidak lagi malu menampakkan rupanya pada seorang pria muda yang masih terjaga di malam panjang itu.
Pria tersebut kini sudah berdiri bersandar pada balkon kamarnya. Buku itu masih menempel erat di tangannya. Secara cepat ia membalik halaman demi halaman yang telah selesai dibacanya.

17 Mei 2012

“Bro, udah 3 tahun lebih Marissa pergi. Dan sampe sekarang, gue lom punya kabar apapun tentang dia. Bahkan ga sekalipun gue denger dia pulang ke Indonesia. Tapi, gue bahagia, setidaknya gue udah ngelaksanain janji gue buat dia. Gue udah penuhin apa yang dia tulis di dalam suratnya. Dan sekarang, gue hanya berharap. Gue bisa bertemu dia. Walau itu untuk yang terakhir kalinya.”

***

24 Juli 2012

“Besok adalah ulang tahun gue yang ke 22. Dan andaikan Marissa masih bersama gue sekarang, gue pasti bakal merayakannya berdua dengan dia.
Ga cuma itu, gue jugamw membagi kebahagaiana gue sekarang dengan orang yang paling gue cintai. Dimana, setelah berjuang selama ni. Gue dipercaya mimpin sebuah proyek film animasi dan ini bertaraf nasional.
Hm, andai Marissa benar-benar ada disini.”

***

Janji Naldo dapat dikatakan benar-benar dia penuhi. Film animasinya berhasil mendapatkan pengakuan dari dunia perfilman nasional.
Sudah banyak artikel di berbagai surat kabar yang tidak bosan mengulas karyanya itu. Dan tak terhitung pujian yang singgah pada dirinya.
Namun, di tengah kesuksesannya, hampa terasa dalam diri Naldo. Di tengah kelimpahan materi yang diperolehnya, Naldo tidak menemukan kedamaian. Kedamaian itu pergi tiga tahun silam dan masih membekas dalam relung jiwanya.
”Andai ada Marissa disini,” Naldo hanya bisa memandangi langit sehabis hujan. Membawa angannya kembali ke masa ia bersama dengan Marissa.

***


.....bersambung.....

Comments

Popular posts from this blog

Benua Biru - Bag 2

Jumat 25 Juli 2014 Selamat Pagi! Fajar hari itu dilalui dari dalam perut burung besi berkode 777-200 rute Dubai-Milan. Berbagai brosur untuk mempermudah perjalanan Anda di Milan Seperti jadwal yg tertera, pesawat pun mendarat di Malpensa Aeroport, Milan, Italia, pk. 8.45 waktu setempat. 3 jam perkiraan waktu dihabiskan di penerbangan kedua ini. Tapi lumayan memberikan semangat karena disinilah perjalanan DIMULAI! Bandara Malpensa di Milan dapat dikatakan tidak terlalu besar, tapi tetap tertata rapi dan menyenangkan. Berbagai penanda dibuat untuk memudahkan pelancong. S bantal boneka yg menemani perjalanan di Benua Biru Singkat kata, akhirnya setelah memastikan semua barang bawaan sudah tersedia, kami menuju ke Bus yg menanti. Di Eropa, yg terdiri dari satu daratan luas dengan banyak sekali negara, memungkinkan bus dari negara lain untuk bisa melayani lintas batas. Seperti bus yg kami tumpangi. Stiker di badan bus bertuliskan Molteam, dan bus itu ternyata b...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...

Belajar Dari Bebek

Pagi ini, Kamis, 4 September 2014 menjadi hari yang tidak biasa. Untuk pertama kali setelah sekian minggu, terpaksa bermalam di kantor. Ya, walau sempat sih pulang jam 3, memejamkan mata sejenak, dan kembali ke kantor pagi pagi sekali. Tapi, datang pagi ke kantor tidak pernah berakhir buruk kok. Ya, tak lama tiba di ruangan, tv sedang memutar tayangan ttg perilaku hewan, dan bintang layar kaca pagi itu adalah bebek bebek kecil. Digambarkan ada induk bebek, bersama hampir 10 anaknya yang masih sangat kecil. Mereka sedang menyusuri taman, tatkala perjalananya terhenti pada sebuah undakan. Bagi sang induk, mudah saja untuk melompat. Tapi tak demikian halnya dengan anak-anak kecilnya. Dengan tubuh yang mungil, meloncati undakan itu sama saja dengan seorang manusia yang melompat dari ketinggian 6 meter, atau hampir setinggi rumah bertingkat tiga. Tanpa bulu yang tebal dan juga badan yg sangat kecil, meloncat undakan yang setinggi 3 kali ukuran tubuhnya bisa menjadi akhir ya...