Skip to main content

Menyepi di Pulau Sangiang

Foto oleh Nathanael
Kapal kayu yang digunakan untuk menyeberang
Semburat mentari mengintip di balik perbukitan ketika anak buah kapal mulai bersiap. Pagi itu, 7 Juli 2016, beberapa kapal kayu bermotor tertambat di Pelabuhan Paku, Anyer, Banten.Salah satu kapal kayu itulah yang akan kami tumpangi untuk menyeberang ke Pulau Sangiang.

Rombongan kami berjumlah 15 orang. Kami berangkat dari Jakarta Rabu malam agar dapat beristirahat. Tiba di Pelabuhan Paku, kami akhirnya harus memejamkan mata dan berbaring di pelataran kantor pelabuhan. Meski tidak terlalu nyaman, istirahat yang singkat sangat membantu mengisi energi sebelum menyeberang.

Sekitar pukul 7 pagi itu. Kapal kami mulai bertolak. Perlahan lahan, kapal kecil yang kami tumpangi mulai membelah perairan Selat Sunda. Perjalanan pagi itu cukup menyenangkan. Ombak tidak terlalu besar sehingga tidak menyulitkan 6 orang anak buah kapal yang menahkodai kapal kami.

Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam hingga 1,5 jam sebelum akhirnya kapal mulai mendekati Pulau Sangiang. Pulau yang berada di Selat Sunda ini memang tengah naik daun sebagai sarana untuk wisata, seperti snorkeling maupun trakking.

Merapat di Pulau, kami segera bersiap untuk snorkeling di sekitar pulau. Tempat tinggal kami berupa rumah sederhana dari kayu yang berjarak hanya selemparan batu dari dermaga pulau.

Sangat sederhana jika dibandingkan tempat tinggal yang bisa Anda jumpai di kawasan wisata Kepulauan Seribu.
Suasana di depan tempat kami bermalam di Pulau Sangiang.
Tidak membuang waktu. Setelah bersiap dan sedikit membaluri cairan penolak sinar UV kami segera menuju ke titik snorkeling pertama. Ada dua titik yang kami datangi. Yang pertama Lagoon Bajo dan kedua, Lagoon Waru. Dua titik ini memang menjadi titik yang selalu dikunjungi wisatawan yang hendak snorkeling.

Sayangnya, kami tidak mengambil gambar bawah air di kedua tempat ini. 

Perairan di kedua titik ini cukup jernih. Sinar matahari bisa masuk sejauh 5-10 meter di bawah permukaan laut. Di dua titik ini kita bisa menikmati ikan ikan kecil yang berenang kesana kemari menyelinap diantara terumbu karang yang masih cukup terawat.

Secara khusus di Lagoon Waru, Anda bisa menjumpai sebuah peti kemas yang teronggok di dasar lautan. Titik ini juga jadi salah satu titik favorit untuk dikunjungi.

Ikan yang ada di Lagoon Waru juga tampak berukuran lebih besar dan persebarang terumbu di Lagoon Waru juga lebih beragam. Ada yang di dekat permukaan, tapi ada juga yang berjarak 3-5 meter di bawah air.

Hamparan pasir putih di Pantai Pasir Panjang

Sore harinya kami menelusuri deretan pohon kelapa guna mencapai salah satu pantai yang direkomendasikan oleh warga Pulau, yakni Pantai Pasir Panjang. 

Seperti namanya, pantai ini terhampar cukup panjang dan menawarkan pasir berwarna putih. Kontur pantai yang cukup landai membuat pengunjung betah berlama lama menikmati ombak yang menghantam silih berganti.

Meski demikian, ada pulu titik pantai yang berupa bebatuan dan karang sehingga bisa menyebabkan luka jika pengunjung tidak berhati hati.

Sayangnya, kondisi pantai cukup kotor dengan berbagai benda yang terbawa ombak. Mulai dari ranting maupun batang pohon, hingga sampah sampah bekas pengunjung. 


Bebatuan dan tebing di Pantai Pasir Panjang

Keesokan harinya, kami segera bersiap setelah sarapan pagi. Menu kami hari itu adalah treking ke bukti yang ada di pulau yang dulu menjadi basis pertahanan tentara Jepang pada tahun 1940-an.

Yang tidak boleh dilewatkan sebelum melahap rute treking ini adalah lotion anti nyamuk karena perjalanan akan menembus hutan bakau dan hutan di perbukitan.

Akibat hujan pada malam hari, jalur yang kami lewati tanahnya menjadi lembut sehingga menyulitkan perjalanan. Tumpukan tanah merah pada alas kaki membuat rombongan terhenti beberapa kali untuk membersihkan sandal yang digunakan. 

Perjuangan menembus hutan di Pulau Sangiang
Harus diakui, kontur treking yang kami lalui cukup menantang. Dimulai dari menyusuri areal pohon kelapa, kami melanjutkan dengan sedikit mendaki menembus areal hutan. 

Hujan juga membuat jalan setapak yang kami lewati menjadi licin, terlebih di kawasan hutan bakau dimana kami banyak menjumpai genangan air serta harus beberapa kali meniti potongan batang kayu yang cukup besar. Hal yang satu ini membuat perjalanan menyenangkan karena tidak sedikit dari kami yang terpeleset akibat licinnya batang kayu.



Gua Kelelawar
Titik perhentian pertama kami adalah Gua Kelelawar. Di bibir Gua, kami disambut deburan ombak yang cukup besar sehingga menjadi daya tarik utama Gua ini. Deburan ombak ini karena gua terhubung langsung dengan perairan terbuka di ujung lainnya. 

Sesuai namanya, jika kita mendekat dan melihat ke dalam, maka kita akan menemukan banyak sekali kelelawar yang terbang kesana kemari.

Menurut penduduk, Gua ini tidak hanya dihuni kelelawar. Dalam waktu waktu tertentu, bahkan mereka bisa menjumpai Hiu Putih yang menampakkan diri di mulut gua. Meski demikian, raja lautan itu tidak dijumpai ketika kami datang.

Dari Gua Kelelawar, kami beranjak mendaki ke Bukit Harapan. 

Rute kami ini sangat menantang karena di beberapa bagian kami harus berpegangan pada tambang untuk bisa naik.

Namun, semua perjuangan ini terbayarkan ketika kaki kami menapak di puncak. Pemandangan yang indah membuat kami melupakan sejenak letih dan pegal yang mendera.

Sembari duduk di batu batu, kami menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Hamparan perbukitan yang bersisian dengan hempasan ombak dari selat Sunda menjadi jawaban untuk mengisi libur singkat ini.

Pemandangan dari atas bukit. 
Dari puncak, tampak di kejauhan Pantai Pasir Panjang yang menjadi penutup rute treking ini. Kawasan perbukitan yang hijau juga menyegarkan mata sembari telinga dihanyutkan oleh suara ombak. 

Puas bermain di pantai, kami segera kembali ke tempat kami untuk bersiap. Sebelum meninggalkan pulau, kami menikmati sajian makan siang yang disiapkan langsung warga setempat.

Selama berada di pulau, makanan yang kami santap cukup menyenangkan. Pada malam hari pertama, kami disajikan menu berbagai ikan yang dibakar, lengkap dengan sambal kecap dan cabe rawit yang menggugah selera. 

Sementara itu, makan siang kami diisi dengan menu ikan asap yang lezat dan segar karena langsung ditangkap dan dihidangkan. 

Ohya, liburan ke pulau tentu tidak lengkap tanpa menikmati kesegaran kelapa muda. Di tempat ini, harga harga makanan maupun minuman juga sangat bersahabat. 1 kelapa batok dikenakan harga 7-8 ribu rupiah. Murah bukan?

Akhirnya, perjalanan singkat kami diakhiri dengan menyebrang kembali ke Pelabuhan Paku. 

Sampai jumpa lagi!

Comments

Popular posts from this blog

Benua Biru - Bag 2

Jumat 25 Juli 2014 Selamat Pagi! Fajar hari itu dilalui dari dalam perut burung besi berkode 777-200 rute Dubai-Milan. Berbagai brosur untuk mempermudah perjalanan Anda di Milan Seperti jadwal yg tertera, pesawat pun mendarat di Malpensa Aeroport, Milan, Italia, pk. 8.45 waktu setempat. 3 jam perkiraan waktu dihabiskan di penerbangan kedua ini. Tapi lumayan memberikan semangat karena disinilah perjalanan DIMULAI! Bandara Malpensa di Milan dapat dikatakan tidak terlalu besar, tapi tetap tertata rapi dan menyenangkan. Berbagai penanda dibuat untuk memudahkan pelancong. S bantal boneka yg menemani perjalanan di Benua Biru Singkat kata, akhirnya setelah memastikan semua barang bawaan sudah tersedia, kami menuju ke Bus yg menanti. Di Eropa, yg terdiri dari satu daratan luas dengan banyak sekali negara, memungkinkan bus dari negara lain untuk bisa melayani lintas batas. Seperti bus yg kami tumpangi. Stiker di badan bus bertuliskan Molteam, dan bus itu ternyata b...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...

Belajar Dari Bebek

Pagi ini, Kamis, 4 September 2014 menjadi hari yang tidak biasa. Untuk pertama kali setelah sekian minggu, terpaksa bermalam di kantor. Ya, walau sempat sih pulang jam 3, memejamkan mata sejenak, dan kembali ke kantor pagi pagi sekali. Tapi, datang pagi ke kantor tidak pernah berakhir buruk kok. Ya, tak lama tiba di ruangan, tv sedang memutar tayangan ttg perilaku hewan, dan bintang layar kaca pagi itu adalah bebek bebek kecil. Digambarkan ada induk bebek, bersama hampir 10 anaknya yang masih sangat kecil. Mereka sedang menyusuri taman, tatkala perjalananya terhenti pada sebuah undakan. Bagi sang induk, mudah saja untuk melompat. Tapi tak demikian halnya dengan anak-anak kecilnya. Dengan tubuh yang mungil, meloncati undakan itu sama saja dengan seorang manusia yang melompat dari ketinggian 6 meter, atau hampir setinggi rumah bertingkat tiga. Tanpa bulu yang tebal dan juga badan yg sangat kecil, meloncat undakan yang setinggi 3 kali ukuran tubuhnya bisa menjadi akhir ya...