Skip to main content

Lebih dari Sekadar Hidangan Meja

Oleh Nathanael

Sepiring nasi, yang dimasak dengan cara digoreng, dengan tak lupa memasukkan telor, berbagai macam daging, sayur atau bahkan buah, serta menambahkan berbagai bumbu penyedap rasa, untuk selanjutnya disajikan selagi hangat, pastilah menggoda selera siapapun untuk memakannya atau sekedar mencicipinya.
Ya, siapa yang tidak mengenal nasi goreng. Mulai rakyat kecil yang tinggal di desa, hingga seorang pemimpin bangsa yang bermukim di istana negara, pasti pernah mencicipi sajian lezat tersebut. Bahkan, seorang Barack Obama, yang tidak lain adalah Presiden Amerika Serikat, pernah menyatakan kerinduannya akan masakan ini, yang ia kenal tatkala tinggal di Indonesia, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak pelak, nasi goreng layak menyandang gelar sajian sejuta umat.
Menyinggung asal muasal masakan tersebut, sebagian besar kalangan mengakui bahwa nasi goreng berasal dari negeri Tirai Bambu. Sajian itu lahir sebagai akibat dari kebudayaan Cina pada jaman dulu yang suka membuang makanan, khususnya nasi, yang berlebih. Oleh karena itu, nasi sisa tersebut, yang belum basi, kemudian diolah sedemikian rupa dengan menambahkan bumbu-bumbu dan digoreng kembali, sehingga dapat disajikan di atas meja dengan kondisi hangat.
Berasal dari negeri yang identik dengan fauna pandanya tersebut, sajian ini kemudian menyebar di seluruh dunia, tidak terkecuali kawasan Asia Tenggara. Hal itu terjadi karena resep ’nenek moyang itu’ dibawa oleh perantau-perantau Tionghoa yang tiba di suatu tempat, dan kemudian menetap di sana. Mereka lalu menciptakan nasi goreng khas lokal dengan didasarkan pada perbedaan bumbu-bumbu, serta cara menggoreng dan penyajiannya. Sehubungan dengan hal itu, kita pasti bisa menjumpai menu ini hampir di seluruh muka bumi, terutama yang makanan pokoknya berupa nasi, seperti di Indonesia.
Di Indonesia sendiri, nasi goreng tidak hanya terdiri dari satu jenis. Keberagaman suku dan kebudayaan yang menghias tanah air dari Sabang hingga Merauke turut memberi warna yang beragam dalam penyajian masakan tersebut. Sebagai contoh, kita mengenal adanya menu nasi goreng ikan asin. Dimana nasi goreng tersebut bukan hanya menggunakan daging ayam biasa, melainkan menyertakan pula ikan asin di dalamnya. Menu ini bahkan menjadi salah satu variasi yang terkenal di Indonesia.
Lalu, ada pula nasi goreng jawa. Nasi goreng jenis ini biasanya dimasak dengan dibumbui sambal ulek sehingga akan terasa pedas. Biasanya juga menggunakan sayuran seperti tauge dalam mengolahnya.
Selain itu, ada nasi goreng Arab Habbatussauda. Walaupun namanya berbau arab, sesungguhnya nasi goreng ini merupakan kreasi yang khas dari masyarakat di Indonesia. Dinamakan demikian karena banyak menggunakan rempa asli Arab sebagai bumbu utamanya. Selain itu, sajian ini juga menggunakan daging kambing dan juga banyak jinta serta tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan.
Nasi goreng lain yang juga menarik adalah nasi goreng Jepang Ashita. Layaknya nasi goreng Arab Habbatussauda di atas, nasi goreng Jepang Ashita juga merupakan kreasi khas Indonesia. Adapun namanya yang unik itu muncul karena nasi goreng itu memakai Ashitaba yang berasal dari Jepang. Ashitaba adalah sejenis sayuran herbal yang sangat popular di Jepang. Penggunaan bahan ini secara khusus menjadikan nasi goreng terlihat unik karena berwarna hijau daun. Campuran lainnya yang menyertai sajian ini adalah daging asap, acar nanas, emping belinjo, dan telur dadar.
Keberagaman kreasi dan jenis nasi goreng seperti yang dituliskan di atas, tidak lepas dari filosofi nasi goreng itu sendiri. Apapun bahan dan bumbu yang digunakan, sepanjang menggunakan nasi yang kemudian dimasak dengan cara digoreng serta menyertakan bumbu-bumbu, maka namanya tetap nasi goreng. Bahkan, restoran-restoran di Belanda menyajikan menu ini dengan nama ”nasi goreng”, tanpa dialihbahasakan terlebih dahulu ke dalam bahasa Belanda maupun Inggris.
Ya, nasi goreng adalah jenis makanan yang demokratis, karena cocok dimakan dimanapun dan kapanpun kita inginkan. Baik itu untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam. Sepanjang disajikan dalam keadaan hangat dengan asap yang mengepul, makanan ini akan selalu membangkitkan selera makan dari setiap orang.
Sehingga tak heran, seorang Barack Obama selalu mengenangnya.

Comments

Popular posts from this blog

Benua Biru - Bag 2

Jumat 25 Juli 2014 Selamat Pagi! Fajar hari itu dilalui dari dalam perut burung besi berkode 777-200 rute Dubai-Milan. Berbagai brosur untuk mempermudah perjalanan Anda di Milan Seperti jadwal yg tertera, pesawat pun mendarat di Malpensa Aeroport, Milan, Italia, pk. 8.45 waktu setempat. 3 jam perkiraan waktu dihabiskan di penerbangan kedua ini. Tapi lumayan memberikan semangat karena disinilah perjalanan DIMULAI! Bandara Malpensa di Milan dapat dikatakan tidak terlalu besar, tapi tetap tertata rapi dan menyenangkan. Berbagai penanda dibuat untuk memudahkan pelancong. S bantal boneka yg menemani perjalanan di Benua Biru Singkat kata, akhirnya setelah memastikan semua barang bawaan sudah tersedia, kami menuju ke Bus yg menanti. Di Eropa, yg terdiri dari satu daratan luas dengan banyak sekali negara, memungkinkan bus dari negara lain untuk bisa melayani lintas batas. Seperti bus yg kami tumpangi. Stiker di badan bus bertuliskan Molteam, dan bus itu ternyata b...

It's Not About me

Greg Asimakoupoulos – Majalah Breakaway Agustus 2003 – It’s Not About Me Peter adalah seseorang yang sedari muda sudah mendambakan tantangan. Ia senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendaki gunung, berenang, dan menjalani kompetisi  fisik untuk menguji daya tahannya. Ketika ia masuk ke Wheaton Academy, ia memanfaatkan kesempatan menghabiskan musim panasnya dengan mengikuti beberapa perjalanan misi. Perjalanan-perjalanan tersebut  adalah sebuah tantangan memberitakan injil ke Alaska, Arizona, Guatemala, dan Republik  Dominika. Tanpa memberitahukan siapapun, Peter mulai berencana berjalan menyusuri Appalachian Trail (AT) pada musim panas setelah tahun pertamanya di Wheaton College. Ia pun  berbicara pada salah satu pemimpin di perjalanan misi untuk meminta nasihat. Setelah mendengar rencana Peter, sang pemimpin menganggap rencana Peter adalah suatu tujuan yang hebat. Tetapi menurutnya, Peter tidak akan mungkin bisa melakukan itu dalam kurun waktu 3...

Belajar Dari Bebek

Pagi ini, Kamis, 4 September 2014 menjadi hari yang tidak biasa. Untuk pertama kali setelah sekian minggu, terpaksa bermalam di kantor. Ya, walau sempat sih pulang jam 3, memejamkan mata sejenak, dan kembali ke kantor pagi pagi sekali. Tapi, datang pagi ke kantor tidak pernah berakhir buruk kok. Ya, tak lama tiba di ruangan, tv sedang memutar tayangan ttg perilaku hewan, dan bintang layar kaca pagi itu adalah bebek bebek kecil. Digambarkan ada induk bebek, bersama hampir 10 anaknya yang masih sangat kecil. Mereka sedang menyusuri taman, tatkala perjalananya terhenti pada sebuah undakan. Bagi sang induk, mudah saja untuk melompat. Tapi tak demikian halnya dengan anak-anak kecilnya. Dengan tubuh yang mungil, meloncati undakan itu sama saja dengan seorang manusia yang melompat dari ketinggian 6 meter, atau hampir setinggi rumah bertingkat tiga. Tanpa bulu yang tebal dan juga badan yg sangat kecil, meloncat undakan yang setinggi 3 kali ukuran tubuhnya bisa menjadi akhir ya...