Skip to main content

BANJIR, INSTAGRAM, DAN NUSANTARA


BANJIR, INSTAGRAM, DAN NUSANTARA

15 Hari dilalui di tahun 2014, ketika kawan lama kembali menyapa Jakarta, banjir. Meski area yang tergenang kini sudah tidak seluas di tahun tahun sebelumnya, tapi tetap saja, bencana mendatangkan nestapa bagi yang dikunjunginya.

Jika tahun lalu areal banjir menjangkau kawasan yg disebut elit di Jakarta Utara, kini banjir  di tempat itu, tidak terjadi lagi. Yang ini konon katanya berkat tindakan Pak Gub dan Wagub DKI baru yg segera menormalisasi beberapa waduk dan sungai di Ibukota. Ya, saya sih juga mengakuinya ya.

Selain berbeda dalam luas area cakupan, banjir tahun ini juga berbeda dalam hal lainnya. Nah, jika tahun lalu yg dicari cari adalah si gubernur dan wakil gubernur terpilih, maka tahun ini yang dicari cari bukan mereka, tapi istri mereka. Ada apa gerangan?

Bukan rakyat yang kebanjiran yang mencari, bukan pula mereka yang kesulitan dan terjebak di jalan akibat air yang menggenang, tapi PEREMPUAN NO SATU DI NEGERI INI! 

Lucunya, ibu negara mencari ibu gubernur bukan di balaikota maupun di rumah dinas, tapi di Instagram! 

Screen Capture Tampilan Instagram. Sumber : kompas.com

Adalah sebuah post di Instagram milik wanita no satu ini yang menjadi akar masalahnya. Seperti biasa, foto yang di unggah oleh ibu negara ke aplikasi fotografi ini pasti selalu mendatangkan banyak komentar. Entah apa alasan banyak orang itu mengikuti akunnya, saya sendiri sih enggak ya, dan enggak mikirin buat nge-follow.

Nah, di salah satu komen seperti tampak di atas nih, ada rakyat yang mungkin sedikit sensi ya. Ujungnya mempertanyakan keberadaan si ibu negara yang dianggapnya malah asyik bermain social media. Ya, "tuduhan" si akun zhafirapsp ini sendiri sebenarnya ambigu juga yaa.

Sebenarnya kalau cuma ngepost di instagram bukan kejahatan juga menurut gue. Toh, sebenarnya cuma makan waktu sedikit, dan ga sibuk sibuk juga. Jadi ga terlalu tepat juga dia protes soal banjir terus dikaitin sama post di akun social media ibu negara.

Tapi dia juga ga bisa dibilang salah. Sebagai rakyat, sudah sepantasnya dia menanyakan keadaan yang sedang terjadi kepada pemimpin negeri. Ya, walau yg jadi presiden suami nya, tapi kan dia juga dibayari negara, bahkan juga memimpin rapat menteri loh! Maksudnya, rapat diantara istri para menteri negara.

Kalau gitu siapa yang salah? 

Kalau menurut gue, walau si ibu negara ga salah dalam hal nge-post foto foto pribadi doi, tapi dia patut jadi "tersangka"-nya dalam kasus ini. Alasannya? Ya, tentu saja jawaban yang tidak patut dikeluarkan oleh seorang Ibu negara seperti dirinya.

Melihat jawaban yang tampil sesegera mungkin setelah pertanyaan diluncurkan, maka patut diduga (udah kaya kriminal aja), itu adalah jawaban yg sangat reaktif. Jawaban yg menunjukkan ketidaksukaan atas komentar yang tidak diharapkan.

Tapi, semua menjadi salah ketika dia membawa pihak ketiga, bahkan pihak keempat dalam masalah ini. Pertanyaan saya, salah apa sih istri gubernur dan istri wakil gubernur? 

Ini secara gamblang menjelaskan bagaimana karakter dari ibu negara itu. Mudah melemparkan kesalahan kepada orang lain. Padahal, menurut saya, ia tentu bisa menjawab dengan cara yang lebih baik dan elegan, selayaknya seorang turunan Jawa yg dikenal penuh tata krama.

Tapi, di balik jawaban itu sebenarnya menimbulkan pertanyaan lanjutan, benarkah dia ibu negara dari seluruh wilayah Indonesia. Atau jangan jangan hanya ibu negara dari Jakarta? 

Begini, komentar di akun zhafirapsp mempertanyakan keberadaan ibu negara ketika rakyatnya kebanjiran. Rakyat disini tentu rakyat Indonesia keseluruhan, yakni dari Sabang sampai Merauke. Bukan rakyat Jakarta saja, bukan juga rakyat Menteng, atau rakyat Pluit. 

Tapi kenapa yang disalahkan oleh ibu negara itu hanya ibu Jokowi dan ibu Ahok? 

Padahal, di Manado, ada banjir yang jauh lebih parah dari banjir di Jakarta. Kenapa si ibu negara ga mencari cari istri Gubernur Manado? (Gue ga tahu namanya, kayanya si ibu negara juga ga tahu, makanya ga di-mention.)

Maka, patutlah kita bersikap seperti gambar di bawah ini. 


Ironi, ketika seorang istri presiden hanya berpikir kerdil. Indonesia hanya Jakarta? 

Kemana pulau pulau lain yang menghasilkan segala kekayaan hayati yang dinikmati Jakarta? Kemana kota kota lain di pelosok negeri yang masih kesulitan air bersih, listrik, dan infrastruktur? 

Saya berasumsi, daerah dan kota itu, tidak masuk dalam peta nusantara yang ada di benak si ibu negara.

Sedih ya, memiliki pemimpin yang berpikir begitu kecil, padahal jadi orang no satu di negeri yang sangat besar. 

Jadi, maaf ya Manado, maaf juga Karo, dan juga maaf ya daerah, kota, dan desa lain.... ibu negara sedang sibuk ngetweet.





Comments

Popular posts from this blog

Cerita Dari Balik Kemudi

ANGKUTAN UMUM DI KOTA METROPOLITAN ilustrasi: mikrolet Jakarta, Perkembangan Sebuah Metropolitan Jakarta atau juga dikenal sebagai Provinsi DKI Jakarta adalah kota provinsi yang terletak di utara Pulau Jawa. Berdasarkan letak geografisnya, Jakarta berbatasan langsung dengan dua provinsi lainnya, yaitu Banten dan Jawa Barat. Merilis data yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada Januari 2009, Jakarta memiliki luas sekitar 740 km² dan penduduknya berjumlah 8.489.910 jiwa. Kota Jakarta sebagai sebuah kota mandiri memiliki sejarah yang amat panjang. Kota ini telah berkembang sejak abad ke-16, dan pada masa itu dikenal dengan nama Kalapa. [1] Pada masa tersebut, Jakarta telah menjadi pusat berbagai kegiatan, baik itu yang berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan. Pemusatan itu salah satunya dipengaruhi oleh letak Jakarta yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, sehingga menjadi tempat transit bagi perdagangan rempah-rem...

Bersama Singkong, Sidik Mengejar Kesuksesan

Beberapa saat lalu, saya sudah menuliskan perjuangan dari seorang pengusaha kerupuk singkong dari Bekasi. Berikut beberapa foto yang diambil penulis. Sidik tengah duduk di ruang tamu rumahnya. Tampak di latar foto dirinya bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menerima penghargaan dari salah satu stasiun tv swasta. Sidik di atas sepeda motor yang digunakan untuk menjual keripik buatannya ke Jakarta. Sidik dan sepeda motor yang merupakan hadiah atas penghargaan yang diterimanya dari salah satu stasiun tv swasta. Sepeda motor ini khusus dimodifikasi untuk mengakomodir kekurangan yang dimiliki Sidik. Sidik tengah memperhatikan potongan singkong yang sedang  dijemur. Terkadang ia harus menghalau kambing-kambing yang tertarik dengan singkongnya. Sidik dan singkong yang sudah kering dijemur . Salah satu peralatan yang digunakan untuk membuat kerupuk singkong. Dengan alat ini, singkong yang masih mengandung air diperas hingga kering. Da...

Mencari Kesembuhan di Tepi Rel Kereta

Pengobatan Terapi Rel Listrik Di tengah kota megapolitan seperti Jakarta, kesehatan ternyata masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar warganya. Meski difasilitasi dengan kartu tanda penduduk miskin, masyarakat luas masih kesulitan untuk mendapatkan pelayanan yang layak.  Dampaknya, pengobatan alternatif menjadi pilihan terakhir masyarakat ketika pelayanan medis tidak lagi dapat terjangkau. Salah satunya adalah "terapi" rel listrik yang dilakukan di dekat Stasiun Kereta Api Rawa Buaya. Meski belum dapat dipastikan secara medis, banyak warga yang mengaku mendapatkan manfaat melalui pengobatan ini.  Banyaknya warga yang berbaring di rel kereta menjadikan PT KAI memberlakukan larangan karena dapat mengakibatkan kecelakaan. Namun, ini tidak mengurungkan niat warga yang mencari kesembuhan. Belasan warga duduk di rel kereta di dekat Stasiun Kereta Api (KA)  Rawa Buaya pada sore hari. Adanya larangan tidak dihiraukan oleh masyarakat ...